Mengapa Air Laut Asin?

Pada zaman dahulu kala disebuah kampung di Pulau Tomia, Wakatobi tinggallah seorang pemuda miskin sebut saja namanya La Kana bersama keluarganya di rumah panggung. Karena sering “mengigau” dan bicara sendiri, pemuda kampung tersebut diusir dari rumahnya dan tinggal sendirian dalam sebuah gubuk di pinggiran desa.

Setelah ditinggal sendirian di pinggir kampung , bukannya berhenti, La Kana semakin berisik. Kadang dia melantunkan azan tidak diwaktu salat. Kadang seperti berpidato. Kadang juga kedengaran seperti orang yang sedang bertengkar. Faktanya ketika diintip ternyata tidak ada yang menemani. Orang mengatakan dia gila tapi sebenarnya jenius.

Sebelum adanya Hand Phone (HP), La Kana sering kedengaran seperti sedang telponan.

“Halo halo apa kabar ini saya Jenderal Anumerta bisa bicara dengan Presiden Amerika?” ujarnya.

Orang yang melihatnya tentu saja geli apalagi gayanya memegang sesuatu seperti gagang telpon atau HP, padahal ia ngobrol sendirian. Lebih unik lagi ketika La Kana berpidato menggunakan bahasa inggris dengan lancar namun tidak fasih karena semua yang diucapkannya logat English Amerikan namun kosa katanya tidak jelas dia mengatakan apa?

Namun dibalik ocehannya yang tidak karuan itu ternyata apa yang diucapkannya sekarang menjadi kenyataan. Banyak orang yang suka bicara sendirian di teras rumah, kamar tidur ataupun di tempat yang gelap. Mereka tidak gila tapi sedang berbicara di telpon.

Pada milenium kedua puluh ini juga banyak orang yang belajar Bahasa Inggris setelah ditetapkannya Wakatobi sebagai salah satu top ten destinasi prioritas pariwisata nasional.

Suatu hari ketika La Kana berjumpa dengan beberapa orang yang baru lulus perguruan tinggi. Iapun bertanya dengan nada menantang kepada para sarjana itu?

“Kaliankan sudah sarjana artinya kalian sudah pintar, saya mau tanya mengapa air laut itu asin?”

Dengan penuh percaya diri sarjana fisika menjawab bahwa air laut asin karena pada saat dibentuknya bumi ini terjadi gesekan atau benturan dengan benda-benda langit dimasa lalu, dimana diantara benda langit itu ada yang memiliki sifat asin yang terlontar ke permukaan air laut sehingga menjadi asin.

“Salah,” ujar La Kana.

“Karena percampuran antara jasad renik dan makhluk purbakala yang mengendap di lautan jutaan tahun yang lalu,” ujar sarjana biologi.

“Salah,” teriak La Kana lagi.

“Karena gesekan partikel atom yang mengendap dalam perut bumi yang bersifat asin secara periodik memuntahkan isinya ke permukaan di dasar laut.

Salah lagi,” kata La Kana.

“Lalu apa yang benar menurut kamu?” ujar tiga sarjana itu serempak.

“Yang benar air laut terasa asin karena kamu rasa,” jelas La Kana sambil tertawa.